ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS BENGKULU
HENCE MAHRAYANY PASARIBU
E1I017024
KELAS A
KONSERVASI DAN REHABILITASI SUMBERDAYA HAYATI LAUT
UNIVERSITAS BENGKULU
HENCE MAHRAYANY PASARIBU
E1I017024
KELAS A
KONSERVASI DAN REHABILITASI SUMBERDAYA HAYATI LAUT
D.Pengampu : Dr. Yar Johan, S.Pi., M.Si
TAMAN NASIONAL LAUT BUNAKEN

Taman Nasional Bunaken adalah
taman laut yang terletak di Sulawesi Utara, Indonesia. Taman ini terletak di
Segitiga Terumbu Karang. Taman
Masional Laut Bunaken merupakan perwakilan ekosistem peraran tropis Indonesia
yang terletak di pusat keanekaragaman hayati laut dan pesisir kawasan
Indo-Pasifik. Keanekaragaman jenis biota laut dan pesisirnya sangat tinggi
karena didukung oleh kelengkapan tipe terumbu karang, jenis-jenis bakau, dan
padang lamun. Disamping itu kawasan ii merupakan lintasan dan tempat berman
beberapa jenis mamalia laut yang dilndungi, seperti paus, lumba- lumba, hiu,
dan dugong.
Taman
Nasional Bunaken memuat 3 fungsi sekaligus, yaitu sebagai tempat kegiatan
pelestarian keanekaragaman hayati, pendukung kehidupan penduduk di dalam dan
sekitar kawasan melalu pemanfaatan ekstraktif terbatas, dan pengembangan
pariwisata. Sebagai tujuan wisata Bunaken telah lama dikenal di seluruh dunia.
Pada tahun 1979 Pangeran Bernardt dari Ingeris pernah berwisata ke kawasan ini.
KONDISI FISIK
Ø Geologi
dan Tanah
Kawasan
Taman Nasional Laut Bunaken terdin dani peraran laut dan pulau-pulau kecil
Ujung Barat pulau Bunaken, pulau Siladen, pulau Man dan pulau Montehage serta
sebelah Utara Tanjung Pisok terbentuk dari batu gamping yang berasal dari
terumbu karang. Pulau Manado Tua dan bagian Tengah pulau Bunaken terbentuk pada
masa pembentukan gunung api di Rataan Minahasa. Wilayah Arakan-Wawontulap
terdapat batuan yang seusia tufa vulkanik trakit yang sangat lapuk. Dari Poopoh
hungga Tatapaan di bagian pesisirnya terdapat endapan sungai dan tanah alluwum.
Kondisi
tanah di pulau Bunaken bagian Timur terdin atas campuran tanah berbatu dan
berpasir. Bagian Barat pulau II jenis tanahnya berbatu karang gamping dan tanah
andesit serta tanah basalt. Pulau Mam pesisir Molas Wori didominasi lahan rawa
pasang surut. Pesisir Arakan- Wawontulap didormunasi lahan rawa pasang surut
yang membentuk endapan pasir Lumpur yang luas.
Ø Topografi
Kawasan Taman
Nasional Laut Bunaken memulla gunung api dengan ketinggan mencapai 800 m dpl,
tepatnya di pulau Manado Tua Pada gunung api tersebut terdapat kawah dengan
keminngan antara 25” - 459 Bagian Tengah pulau Bunaken mempunya ketinggian 71 m
dpl dan terdapat Plateu (dataran tinget) yang umumnya rata dengan ketinggian 30
m dpl Pulau Mam (139 m dpl) jika dilhat dari Timur ke arah Barat berbentuk
“sadel” dengan kemurnngan 208 409 Sedangkan Pulau Siladen dan Pulau Montehage
merupakan pulau yang datar.
Batimetn
atau kedalaman perairan Taman Nasional Bunaken sangat khas dan merupakan salah
satu keistimewaan kawasan im. Disebelah Utara Provinsi Sulawesi Utara tidak
terdapat paparan benua (continesial shelf), sehingga terjadi pertemuan langsung
antara pesisir dasar laut dengan lereng benua (continestal slope). Peraran
dalam terdapat di selat- selat antara pulau dengan daratan utama Sulawesi
Utara, serta selat-selat antar pulau dengan kedalaman minimal 200 m.
Ø Oceanografi
Arus
permukaan laut mengalir ke arah Timur Laut sepanjang tahun, sejajar dengan
pantat Utara Sulawesi. Arus lokal yang dimotori pasang surut dan angin sangat
kompleks dan sulit dipetakan. Pada saat dan tempat tertentu terdapat arus yang
kuat dan putaran arus. Disamping itu juga terdapat arus yang berlawanan dengan
arus tersebut di atas dan tu menunjukan kemungkinan terdapat arus berputar
searah jarum jam di Teluk Manado yang dimotori pasang surut.
Suhu
permukaan laut di laut lepas antara 27-299C sepanjang tahun, sedangkan pada air
yang dangkal dapat lebih tinggi (5306). Salintas ar di laut lepas 34-35Y dengan salinitas rata-rata 339 Ombaknya tidak melebihi 1 meter dan berjarak
pendek dengan kejermhan berkisar antara 20-30 m.
Pasang surut
di kawasan tu berkisar 2.6 m. Umumnya pola pasang surutnya adalah sewi-diurnad,
yaitu dua kali pasang dalam satu har. Tetapi ada juga pola diurwal (1 kal
pasang dalam 1 hari yang dipengaruhi oleh gaya tarik matahari) yang dapat
menambah atau mengurangi efek dari pola semi diumal.
Ø Hidrologi
Tidak
terdapat sungai besar mengalir di kawasa ini, namun beberapa sungai di daratan
Pulau Sulawesi mengalir ke Teluk Manado, seperti Sungai Tondano dan Sungai
Malalayang. Sumber ar tawar di wilayah Kepulauan Bunaken terdapat di
pulau-pulau tertentu. Kualitas air tawar di Pulau Bunaken (Desa Alung dan Dusun
IV Desa Bunaken) relatif baik, namun di tempat lainnya, seperi Pantat Liang,
dan Pulau Manado Tua kurang baik, sedangkan di Pulau Main terdapat sumber ar
tawar yang cukup.
Ø Iklim
Iklim
Kawasan Taman Nasional Bunaken pada umumnya basah tropik dan berdasarkan
klasifikasi Schnudt dan Ferguson terdapat 2 tipe iklim, yaitu tipe A dan B.
Kawasan taman nasional bagian Utara termasuk tipe A dengan 10 bulan basah dalam
satu tahun dan kawasan bagian Selatan termasuk tipe B dengan 7-9 bulan basah
dalam satu tahun.
Kawasan ini
memilila dua musim, yatu musim Barat (Oktober — Maret) dan musim Timur (Me -
Agustus). Musim Barat lebih basah dibandingkan dengan musim Timur.Curah hujan
rata-rata kawasan bagian Utara adalah 3.000-3,500 mm per tahun, sedangkan
bagian Selatan adalah 2. 5300- 3000 mt pertahun, dengan temperature rata-rata
27C, temperatur mirimun 19”C dan temperatur maksimum 54”C.
BIOTIK
Kawasan
Taman Nasional Laut Bunaken mempunyai tipe ekosistem laut dan pesisir yang
meliputi terumbu karang, padang lamun dan hutan bakau. Selam itu pada kawasan
taman nasional ii juga mempunya tipe ekosistem dataran rendah yang meliputi
kawasan hutan asli dan kawasan hutan binaan.
Ø Flora
Flora Taman
Nasional Laut Bunaken mempunyai potensi keragaman hayati yang cukup tinggi.
Saat ini telah teridentifikasi ada 55 jenis tumbuhan dan 107 jenis satwa yang
berada di dalam kawasan taman nasional. Potensi flora daratan di pulau-pulau Taman
Nasional Bunaken kaya akan jenis palma, sagu woka, silar dan kelapa.
1. Ekosistem
hutan bakau
Hutan bakau di Bunaken relatif ndak lebar dan kurang pengaruh
masukan ar tawar, sehingga zona jems tm menjadi tdak menonjol Di bagian luar
yang bersubtrat lumpur, umumnya didominasi oleh Soneseratia alba sebagai pohon
perintis.
2. Mangrove
Mangrove
di sepanjang pesisir Arakan-Wowontulap didominasi oleh jenis Rfisopkora spp dar
Sonmeratia spp, yang tumbuh ekstensif ke arah laut serta sedikit mpah (Mma
frutican). Kelimpahan jenis Rkisopkora spp
relatif sangat hngoi di Pulau Montehage, tetapi jenis Sonperatia alba berukuran
besar merupakan jerus yang populer digunakan sebagai kayu olahan. Jenis-jenis
lam yang terdapat di Pulau Montehage adalah Bruguiera spp, Avicenmia marina dan
Certaps tagal.Beberapa jenis vegetasi
mangrove lannya yang dapat dijumpai di Taman Masional Bunaken, antara lam ting
papua (Cerap decandra), posi-posi (Soreeratia ovata), api-api putih (viceria
afficinalis), api-api merah (4. marisa), api- api Ld. aiha), lolang bajo
(Lumeeitcera hitorea), lemon pece (Seppkipara Adropkillacea), kolot kambing
(Fertiiera htfolaris), lara-kara (XwWocarpus spp), buah bitung (Ssaevaola
plunseri), dan buta-buta (Aerasficum spp).
3. Ekosistem
padang lamun (Seagrass beds) dan Alea/'Ganggang
Padang
lamun yang paling tensif dan ekstensif berada di kompleks terumbu
Arakan-Wawontulap dan sekeliling Pulau Nan. Padang lamun tersebut didominasi
oleh jenis Thalassia hemprichii dan Enhalus acoroides. Bersama kedua jenis
tersebut terdapat jenis lamun lain, seperti Uymodoces spp, Syringodium spp, dan
Salapkila spp. Namun di bagian Utara Pulau Han dan Pulau Montehage serta
bagian-bagian tertentu terumbu Arakan- Wawontulap, yang lebih terbuka terhadap
ombak, terdapat jenis khas, sepert Thalassodendron ciliatum.
4. Ekosistem
Terumbu Karang
Terumbu
karang merupakan ekosistem yang paling mendapat perhatian dalam penunjukan
Bunaken sebagai kawasan pelestarian alam. Di Taman Nasional Bunaken terdapat
beberapa tipe terumbu karang. Yang paling sering ditemukan adalah terumbu
karang tepi (fringing res), terumbu karang penghalang (barrier res dan terumbu
lepas (paich reeh). Terumbu karang di Taman Masional Bunaken mempunyai
keanekaragaman yang tinggi. Tahun 1981 tercatat 58 genera dan subgenera karang
keras dan tahun 1989 tercatat 44 genera.
Ø Fauna
1. Mamalia
laut: Antara lam dugong (Dugorxg dugor), paus snp (Balaeroptera physalis dan 8 borsalis), paus putih (Phvseter macrocepkalus), paus bongkok (Megaptera
xovasanglias), paus pembunuh (Urcisus arca), dan lumba- lumba.
2. Ikan
Sekitar 2000 jerus ikan terdapat di peraran Bunaken, antara lam ikan kuda gusumi(Hippocampus kuda), oci putih Seriola rivoliang), lolosi ekor kurung
(Lutjarus kasmira), huuigorango (Corckarkinus melanapoterus), hiuisorango
kakadang (Sphyrea lewisi), ikan pari (Taoeniura Iymnal pari mantra defobatus
narinari), belut (Cemnotkorax javanicus), kerapu (Pecudanthkias pieurotaenial
ikan napoleon (Ukeilinus undulains), kakatua biru (Scarus bleekeri), dan
tenggiri (Sromberoides congmersomjanual,
3. Moluska,
krustasea, karang: antara lain triton (Charorie tritoris), kepala kambing
(Cassis corkutal, susu bunder (Trockus miloticus), trnton terompet (Cherosis
fritonis), bintang laut berduri (dcantkaster plancii), nautilus berongga
(Nautilus porpilius), kepiting kelapa (Sirgus Jatrol, dan akar bahar
CAntipatkes spp).
POTENSI WISATA TAMAN NASIONAL LAUT BUNAKEN
Bunaken
memiliki keindahan taman laut dengan berbagai jenis ikan hias dan ikan duyung,
serta memililki pasir putih sepanjang kawasan pantai.Bagian utara merupakan
tempat yang nyaman untuk berjemur, menyelam, berenang, dan snorkeling.
Snorkeling biasanya dilakukan di kedalaman 25 meter atau dalam bawah laut ini
bisa dinikmati dengan berperahu yang memiliki dasar kaca (catamaran/glass
bottom boat). Terdapat bangkai kapal laut yang diperkirakan usianya sudah
berumur 50-60 tahun. Selain itu terdapat pula tebing karang yang membentuk gua
terletak sekitar 50 meter di bawah permukaan laut.
KONSERVASI DAN ANCAMAN
Taman Nasional Bunaken
secara resmi didirikan pada tahun 1991 dan merupakan salah satu taman laut
pertama Indonesia. Pada tahun 2005, Indonesia mendaftarkan taman nasional ini
kepada UNESCO untuk dimasukan kedalam Situs Warisan Dunia. Meskipun memiliki
status taman nasional dan mendapat pendanaan yang cukup, taman ini mengalami
degradasi kecil akibat penambangan terumbu karang, kerusakan akibat jangkar,
penggunaan bom dan sianida dalam menangkap ikan, kegiatan menyelam dan sampah. World
Wildlife Fund (WWF) memberikan bantuan konservasi sebagai bagian dari
"Sulu Sulawesi Marine Eco-region Action Plan". Konservasi meliputi
patroli, yang berhasil mengurangi penggunaan bom dalam menangkap ikan.
PENGELOLAAN
Taman
Masional Laut Bunaken dikelola oleh Bala Taman Nasional Laut Bunaken, sebaga
Unt Pelaksana Tekrus Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi
Alam, Departemen Kehutanan.
DAFTRA PUSTAKA
Supriatna, J. 2014. Berwisata Alam di Taman Nasional. Jakarta (ID):
Yayasan Pustaka Obor Indonesia
WISATA NASIONAL TAMAN
LAUT OLELE

Desa Olele
berada di mainland Kabupaten Bone Bolango, dan sebagian daerahnya memiliki
laut, dimana pantainya memiliki pasir putih, dan hanya sebagian kecil dari
daratan yang digunakan untuk pemukiman. Topografi berdasarkan ketinggian dari
permukaan laut di Desa Olele 1- 3 meter, hanya sebagian kecil yang memiliki
ketingian dari permukanan laut yaitu di daerah perkebunan memiliki ketinggian
kurang lebih 50 - 70 meter dari permukaan laut.Dasar hukum penetapan Kawasan
Konservasi Laut Daerah di Desa Olele Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone
Bolango adalah SK Bupati Bone Bolango No. 165 Tahun 2006 yang dikeluarkan pada
tanggal 6 November 2006.
Ø Letak
Geografis
Secara
geografis, KKLD Desa Olele terletak pada posisi 0024'51" - 0024'23"
LU dan 123008'59" - 123009'11" BT, memiliki luas kawasan sekitar
24.910 ha. Desa Olele terletak di bagian pantai Selatan Teluk Tomini Kecamatan
Kabila Bone Kabupaten Bone Bolango, Provovinsi Gorontalo. Secara administrasi,
Desa Olele berbatasan dengan Suwawa di sebelah Utara, Sebelah Timur Tolotio,
Sebelah Selatan Teluk Tomini, dan Sebelah Barat Desa Olohuta.
Ø Iklim
Sebagaimana
halnya dengan daerah-daerah lain di Gorontalo, Desa Olele mempunyai iklim
tropis yang dipengaruhi oleh musim hujan yang berlangsung antara Oktober -
April dan musim kemarau antara Juni - September. Sementara Angin Utara bertiup
pada Januari - Maret bersamaan dengan datangnya musim kemarau, dan Angin Barat
terjadi selama 2 bulan yaitu April - Mei. Sedangkan Angin Tenggara pada
November - Desember, dimana keadaan laut cukup kencang, tinggi gelombang laut
berkisar 1 sampai 2 meter. Dan, Angin Selatan bertiup dari Juli - Agustus,
dimana keadaan ini sangat berpengaruh terhadap aktifitas nelayan dalam
melaksanakan usaha penangkapan ikan, sedangkan angin timur tidak banyak
berpengaruh terhadap aktifitas nelayan.
Ø Kondisi
Perairan
Pasang surut
di perairan Gorontalo, diklasifikasikan sebagai tipe pasang surut ganda
(semidiurnal), yaitu mempunyai perioda dua kali pasang dan dua kali surut.
Rata-rata tenggang pasang dan surut sekitar 1-2 meter.Kecepatan arus
maksimum permukaan pada musim barat 10 cm/detik. Pola arus di Gorontalo
memperlihatkan pola pergerakan arus rata-rata bulanan yang dibangkitkan oleh
angin. Perubahan arah arus yang dibangkitkan pasang surut terjadi lebih cepat
karena periode pasang surut yang lebih pendek (harian) dibandingkan dengan
periode angin (musiman). Arus di perairan Gorontalo mewakili empat musim, yaitu
(1) Musim Barat yang terjadi pada Desember - Februari; (2) Musim Peralihan 1
yang terjadi pada Maret - Mei; (3) Musim Timur yang terjadi Juni - Agustus; dan
(4) Musim Peralihan 2 yang terjadi pada September - November. Sementara itu,
pola umum arah penjalaran gelombang laut di perairan Gorontalo mengikuti
kecenderungan angin musim yang berlaku. Pada musim timur, tinggi gelombang
perairan dalam terletak pada kisaran 0,2 - 0,5 m sementara pada musim barat,
tinggi gelornbang di perairan Gorontalo berkisar antara 0,5 - 1 m. Suhu
permukaan 290C dan salinitas permukaan berkisar antara 31-33 ppt, sedangkan pH
8, dengan kecerahan (transparansi) antara kurang dari 15 m.
Ø Kondisi
Ekosistem Perairan
Kondisi
terumbu karang masih cukup baik dan bervariasi, terutama jenis-jenis karang
bercabang yang sangat disukai oleh spesies dari famili Pomacentridae, seperti
Chromis spp, Abudefduf spp, Neoglyphidodon spp, Plectroglyphidodon spp,
Pomacentrus spp, dan Stegastes spp. Namun ikan karang yang paling banyak
ditemukan adalah jenis Canthigaster sp.
Ø Potensi
Perikanan
Jumlah nilai
produksi pada tahun 1995 sampai 2003 mengalami penurunan sepanjang tahun,
disebabkan sumber daya laut di teluk tomini telah mengalami "over
fishing", dimana banyak perusahaan besar yang menggunakan alat tangkap
dengan teknologi canggih. Akibatnya, nelayan tradisional yang menangkap ikan di
teluk tomini, mengalami penurunan hasil tangkapan.
Selain itu,
rendahnya produksi perikanan yang dihasilkan oleh nelayan yang ada di perairan
sekitar desa (terutam ikan demersal karang), karena sampai saat ini, kegiatan
penangkapan ikan nelayan Desa Olele lebih tertuju kepada ikan-ikan pelagis yang
memiliki nilai ekonomis yang tinggi, umum dikonsumsi, dan berada di perairan
terbuka (di luar teluk).
Ø Karakteristik
Di sisi lain,
pemanfaatan sumber daya pesisir dan laut di Desa Olele, masih skala kecil dan
kebanyakan menggunakan alat tangkap tradisional. Umumnya, mereka nelayan
pancing tuna yang menggunakan alat tangkap senar, kawat tembaga, dan mata
pancing. Ukuran tali nilon nomor 70 sampai 100.
Melaut
menggunakan perahu katinting panjang 5 meter, lebar 60 cm, dan tinggi 70 cm.
Perahu dilengkapi mesin, dayung, dan layar sedangkan umpan adalah cumi-cumi.
Beberapa nelayan menggunakan pancing dasar untuk menangkap ikan demersal yang
hasilnya bukan untuk dijual tetapi dikonsumsi sendiri, seperti ikan kuwe,
cumi-cumi, dan kerapu. Selain
karakteristik tersebut, variabilitas cuaca dan ketidakpastian alam di pinggiran
pantai, sangat mempengaruhi hasil tangkapan
Ø Pendekatan
Konservasi
Pendekatan
konservasi dalam menetapkan Kawasan Konservasi Laut Daerah di Desa Olele
Kecamatan Kabila Bone Kabupaten Bone Bolango adalah berdasarkan hasil
penelitian komprehensif dan identifikasi sebagai suatu kawasan untuk
pemanfaatan sumberdaya alam bagi kepentingan rekreasi, wisata, pendidikan,
serta bentuk lain yang tidak bertentangan dengan prinsip konservasi Kawasan
Konservasi Laut Daerah [KKLD] Olele, oleh pemerintah setempat sedang diperluas
dan diusulkan statusnya sebagai Taman Nasional Laut Olele. “Terumbu karang
merupakan ekosistem utama di KKLD Olele, terdapat biota-biota penyusun dominan,
seperti karang batu, ikan karang, alga, karang lunak, dan fauna lain. Desa
Olele memiliki potensi terumbu karang yang baik,
Ø Pariwisata
Potensi wisata
yang terkenal di daerah ini adalah Taman Laut Olele yang terletak sekitar 25 km
dari Kota Gorontalo. Taman laut ini memiliki kekhasan yaitu terdapatnya goa di
bawah laut yang bernama Goa jin Karang. Itu sebabnya taman laut ini diyakini
oleh banyak penyelam memiliki keindahan yang luar biasa bahkan jauh di atas
Taman Laut Bunaken di Sulawesi Utara. Pengembangan wisata bahari di pantai
Olele masih banyak peluang terutama untuk snorkeling, diving (menyelam), dan
berenang.
DAFTRA PUSTAKA
Anugrah, K. 2017. Pembangunan
Pariwisata Daerah Melalui Pengembangan Sumber Daya Manusia Di Gorontalo. JUMPA.
4 (1) : 33 – 46.
Komentar
Posting Komentar